Makalah PENGARUH KONSENTRASI GULA DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP SIFAT-SIFAT MANISAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii)

PENGARUH KONSENTRASI GULA DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP SIFAT-SIFAT MANISAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii)

 

 

Oleh: SOERYANINGSIH

F.TEKNOLOGI PERTANIAN/ THP

Dibuat: 2008-02-27 by CHN , dengan 1 file(s).

 

 

Keywords: RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii)

 

RINGKASAN

Pengaruh Konsentrasi Gula dan Lama Perendaman terhadap Sifat-sifat

Manisan Rumput Laut (Eucheuma cottonii), Soeryaningsih, 021710101111, 2006,

55 hlm

Rumput laut (seaweed) mempunyai nilai tambah yang rendah apabila

diperdagangkan dalam bentuk bahan mentah, baik itu dalam bentuk segar (rumput

laut basah) dan rumput laut kering, karena baunya yang amis serta rasanya yang

kurang manis sehingga kurang disukai konsumen. Oleh karena itu diupayakan

alternatif pengolahan menjadi manisan rumput laut basah untuk meningkatkan nilai

ekonomi rumput laut yang kurang disukai.

Teknologi pengolahan rumput laut menjadi manisan relatif sederhana, tidak

memerlukan prosedur dan peralatan yang rumit. Dalam rangka peningkatan mutu

produk olahan pangan yang baik, maka pada penelitian ini dilakukan penambahan

komposisi gula dan lama perendaman terhadap sifat-sifat manisan rumput laut basah

yang dihasilkan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh konsentrasi gula

dan lama perendaman terhadap sifat-sifat manisan rumput laut basah yang dihasilkan

serta untuk mengetahui kombinasi perlakuan gula dan lama perendaman yang tepat

sehingga diperoleh manisan rumput laut dengan sifat-sifat yang baik dan disukai

konsumen.

Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK)

yang terdiri dari 2 faktor dimana masing-masing faktor terdiri dari 3 level dan

dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali untuk setiap perlakuan. Faktor A adalah

variasi rasio air dengan gula yang terdiri dari 1:1; 1:2; 1:3. Faktor B adalah variasi

ix

lama perendaman yang terdiri dari 12 jam, 24 jam, 36 jam. Uji yang digunakan untuk

menguji hipotesa adalah uji regresi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi penambahan gula

berpengaruh terhadap kadar air sebesar 99.14%, kadar sakarosa sebesar 87.57%, dan

kecerahan warna sebesar 87.68%. Lama perendaman berpengaruh terhadap kadar air

sebesar 0.8 %, kadar sakarosa sebesar 11.86%, dan kecerahan warna sebesar 11.77%.

Interaksi antara konsentrasi gula dan lama perendaman berpengaruh terhadap kadar

sakarosa dengan R rata-rata sebesar 0.993.

Kombinasi perlakuan terbaik yang paling disukai konsumen adalah kombinasi

perlakuan A2B2 (rasio air dengan gula 1:2 dan lama perendaman 24 jam) dengan

tingkat mutu hedonik terhadap kemanisan sebesar 4.07 (suka-sangat suka), terhadap

warna sebesar 3.60 (agak suka-suka), terhadap tekstur sebesar 3.67 (agak suka-suka),

dan terhadap kekenyalan sebesar 4.40 (suka-sangat suka), dengan total uji efektifitas

0.7599

 

 

III. METODOLOGI

 

 

III.1 Waktu dan Tempat

 

Kegiatan praktikum pembuatan baso ikan Kurisi dengan penambahan karaginan dan chitosan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 19 September 2007 di Laboratorium Unit Produksi, Departemen Teknologi Hasil Perairan.

 

 

III.2 Alat dan Bahan

 

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mixer, mangkuk, sendok, panci, kompor, neraca, penumbuk bumbu.

 

Bahan yang digunakan adalah ikan Kurisi (Nemipterus nematophorus) 200 gram, tepung tapioka 66,5 gram, lada 0,3 gram, garam 7 gram, gula putih 4 gram, karaginan 1 gram, chitosan 2,7 ml, bawang merah 3 gram, dan bawang putih 2 gram.

 

 

III.3 Prosedur kerja

 

Daging ikan lumat dilakukan pengadonan dengan mixer hingga halus ,ditambahkan garam lalu diadon kembali hingga merata.

 

Adonan diberi bumbu yang terdiri dari gula putih, bawang merah goreng, bawang putih, dan lada. Karaginan 0,5% (1 gram) dan chitosan 1% (2,7 ml) dimasukkan ke dalam adonan lalu diadon.

 

Tepung tapioka ditambahkan ke adonan lalu diadon kembali, ditambahkan air dan es secukupnya kemudian adon kembali hingga air merata pada adonan dan bisa dicetak.

 

Adonan baso dicetak berbentuk bulat dengan suhu setting 40°-50°C lalu dilakukan perebusan dalam panci berisi air dengan suhu cooking 90°-95°C. perebusan dilakukan hingga baso mengapung kemudian diangkat dari panci dan tiriskan. Baso siap dihidangkan.

 

4. Hasil dan Pembahasan

 

5. Kesimpulan dan Saran

 

VI. Daftar Pustaka

 

Amalia, ZIZ. 2002. Studi Pembuatan Kamaboko Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) dengan Berbagai Pencucian dan Jenis Bahan Pengikat. Skripsi. Bogor: Program Studi Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikananan dan Ilmu Kelautan IPB.

 

Junianto. 2003. Teknik Penanganan Ikan. Jatinangor: Penebar Swadaya.

 

Dwiponggo, A.1984.Sumberdaya Perikanan Perairan Pantai.Jakarta:Balai Penelitian Perikanan Laut.

 

Astawan, M.2004.Ikan yang Sedap dan Bergizi.Solo:Tiga Serangkai.

 

Anonimous. 2007. http://www.ristek.go.id [24 september 2007]

 

Nurfianti, Dini. 2007. Penggunaan Kitosan Sebagai Pembentukan Gel dan Pengawet Bakso Ikan Kurisi (Nemipterus nematophorus) pada Penyimpanan Suhu Chilling. Skripsi (tidak dipublikasikan) Bogor: Program Studi Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikananan dan Ilmu Kelautan IPB

 

Doddy,A, et al.2007. http://www.lipi.go.id/intra/masuk.cgi?publikasi&&&&2007&&1170309313&1036007140&& . [25 September 2007]

 

 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s